free stats
banner 728x250
Berita  

Dampak Larangan Ekspor CPO, Indonesia Kehilangan Devisa Jumbo Hingga Malaysia Raup Untung

banner 120x600
banner 468x60

Reporter report, Ismoyo

Jakarta – Mulai hari ini (28/2/2022), pemerintah telah menetapkan kebijakan pelarangan ekspor produk turunan sawit yaitu CPO, RPO, POME, RBD Palm Olein dan minyak goreng bekas.

banner 325x300

Hal itu dilakukan guna mencapai harga minyak goreng curah sebesar Rp14.000 per liter di seluruh Indonesia.

Pemerintah mengatakan larangan tersebut berlaku sampai harga minyak goreng curah mencapai Rs 14.000 per liter di pasar tradisional, dan mekanisme larangan telah dirumuskan secara sederhana.

Berdasarkan pengamatannya, ekonom CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan, ada serangkaian efek yang akan terjadi, akibat larangan produk turunan sawit.

Pertama, dia menilai kebijakan itu akan mengulangi kesalahan dengan menghentikan ekspor komoditas batu bara secara tiba-tiba pada Januari 2022.

Yang mana nantinya Indonesia akan mendapat protes keras. Beberapa negara yang kemungkinan akan merespons adalah India, Cina, dan Pakistan. Karena mereka adalah importir CPO terbesar dan merasa dirugikan dengan kebijakan ini.

“Apakah masalah (memenuhi persyaratan CPO lokal) akan teratasi?” Bhima saat dihubungi belum lama ini, “Tidak, sudah diprotes oleh calon pembeli di luar negeri.”

Dia melanjutkan, “Biaya produksi manufaktur dan harga barang konsumsi di tiga negara akan naik signifikan, dan Indonesia yang akan disalahkan.”

Kedua, kebijakan pelarangan ekspor CPO dari Indonesia akan menguntungkan negara lain penghasil minyak nabati atau minyak alternatif.

Menurut Bima, Malaysia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar.

Dengan demikian, negara tetangga berjuluk negara itu akan diuntungkan dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia bagi produsen sawit lokal.

“Larangan ekspor juga akan menguntungkan Malaysia sebagai pesaing CPO Indonesia. Sementara itu, ada negara lain yang memproduksi minyak nabati alternatif seperti minyak kedelai, minyak lobak dan minyak bunga matahari, terutama Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa.”

Ketiga, harga pasar minyak goreng belum tentu stabil.

Menurut Bima, kebijakan pelarangan ekspor produk turunan sawit tidak akan layak dilakukan jika tidak dibarengi dengan kebijakan harga eceran tertinggi minyak goreng.

Kemudian, produsen juga dapat mengurangi kapasitas produksi minyak goreng karena permintaan yang lebih rendah. Yang dirugikan adalah harga TBS (Kelompok Buah Segar) di tingkat petani yang akan turun.

Efek keempat, Indonesia akan kehilangan sumber devisa yang besar.

Berdasarkan perhitungan Bima, jumlahnya kurang lebih 43 triliun rupiah.

“Selama Maret 2022, nilai ekspor CPO mencapai 3 miliar USD. Jadi diperkirakan pada bulan Mei, jika asumsi larangan ekspor berlaku selama sebulan penuh, akan terjadi kerugian selisih kurs sebesar 3 miliar USD, yaitu Setara dengan Rs.43 triliun, angka ini setara dengan 12 persen dari total ekspor nonmigas.”

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.