free stats
banner 728x250
Berita  

Harga Daging Sapi Jelang Idulfitri Tembus Rp 140 Ribu Per Kilogram, Harga Telur Juga Melambung

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA – Fenomena kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar mulai terjadi menjelang Lebaran pekan depan.

Sekretaris Jenderal Koperasi Pedagang Pasar Induk (Inkoppas), Ngadiran, mengatakan salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah daging sapi.

banner 325x300

“Harga (daging sapi) masih 120 ribu rupiah hingga 140 ribu rupiah per kilogram tergantung kualitasnya” ujarnya melalui pesan singkat ke Jakarta, Minggu (24/4/2022).

Menurut Ngadiran, kenaikan harga daging sapi di pasar karena keterlambatan pengiriman dari luar negeri atau impor.

“Supply agak kurang karena produk beku, informasinya impor terlambat datang”, ujarnya.

Namun, dia meyakini masyarakat menengah ke atas tidak akan mempermasalahkan harga daging meski mengalami kenaikan.

“Tentu konsumen dengan uang tidak masalah, dan untuk kalangan bawah, telur juga mahal karena biasanya harganya Rp 21 ribu, sudah Rp 28 ribu per kilogram. Konsumen beralih ke telur dan ayam, meski mereka juga mahal, tapi tidak semahal daging”, Perjanjian menyimpulkan.

Sementara itu, Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) menyebut kenaikan harga daging sapi menjelang Lebaran rata-rata mencapai Rp30.000.

“Harga daging rata-rata naik Rp30.000 per kilogram. Stoknya cukup,” kata Presiden Jenderal APDI Jenderal Achyat.

Achyat menjelaskan, potongan daging memiliki harga rata-rata Rp. 170 ribu.

“Untuk yang deep seperti tenderloin, sudah 170 lakh untuk frozen beef dari Brazil”, ujarnya.

Tingginya harga daging sapi, kata dia, baru akan terjadi setelah Lebaran.

“Setelah itu harga kembali normal”, kata Achyat.

Wakil Presiden Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menyarankan pemerintah meningkatkan program swasembada pangan rumah tangga untuk mengatasi mahalnya harga daging sapi.

Dedi Mulyadi mengatakan mahalnya harga daging sapi karena pemerintah tidak memastikan ketersediaan sapi.

“Kenaikan harga (daging sapi) ini harus diatasi. Dengan memastikan ketersediaan barang. Stok aman, masyarakat tidak perlu khawatir. Jaminan psikologis ini sering dimainkan pedagang, sehingga masyarakat berebut”. kata Dedi.

Selain itu, kata Dedi Mulyadi, ada perubahan budaya yang dilakukan masyarakat sehingga harga daging meroket.

“Waktu saya kecil, saya jarang membeli daging. Nah, karena dulu orang tua kita pasti memelihara hewan, mereka punya domba, mereka punya ayam
. Khawatir dan harus beli. Kalau ke pasar, mereka hanya membeli rempah-rempah. Tidak apa-apa. Sekarang ternaknya ada di telepon seluler,” katanya.

Maka Dedi menyarankan agar budaya swasembada pangan dipulihkan di semua rumah tangga. Salah satunya adalah dengan memulai pertanian skala keluarga.

“Waktu saya jadi bupati (Purwakarta), saya mewajibkan anak sekolah punya ternak sendiri”, ujarnya. (Merah/cik/van/wly)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.