free stats
banner 728x250
Berita  

Malaysia Hadapi Krisis Tenaga Kerja, Industri Sawit Hingga Semikonduktor Merugi Miliaran Dolar AS

banner 120x600
banner 468x60

Laporan Wartawan , Namira Yunia Lestanti

KUALA LUMPUR – Pembekuan perekrutan pekerja asing imbas lonjakan Covid-19 pada Februari lalu, telah memicu terjadinya krisis pekerja migran di bidang industri Malaysia, khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit.

banner 325x300

Dimana pada kuartal pertama di tahun 2022 industri kelapa sawit Malaysia mengalami kekurangan karyawan hingga mencapai 120.000 pekerja, adanya krisis tenaga kerja asing inilah yang kemudian membuat sektor pabrik dan perkebunan sawit merugi hingga 4 miliar dolar AS.

Melansir dari Chanel News Asia, industri kelapa sawit Malaysia menjadi salah satu pemain utama dalam rantai pasokan minyak sawit global.

La renommée des produits d’huile de palme brute (CPO) a même permis à la Malaisie de réaliser un bénéfice de 1,4 milliard de dollars américains au deuxième trimestre de 2021.

Bien que l’industrie de l’huile de palme contribue au revenu le plus important pour la Malaisie, car le travail dans ce secteur est considéré comme un Métier difficile et dangereux, il rend les riverains réticents à entrer dans ce métier.

Cela a forcé la Malaisie à recruter des immigrants d’Indonésie et du Bangladesh pour diriger l’industrie de l’huile de palme.

Mais après que les États-Unis ont trouvé des violations du travail forcé sur des immigrants indonésiens et bangladais.

Membuat kedua negara ini terpaksa menunda kedatangan warga negaranya untuk menjadi pekerja asing, hingga negosiasi atas hak dan perlindungan pekerja yang diajukan Indonesia dan Bangladesh disetujui Malaysia.

“Para penanam kelapa sawit berada pada titik puncak, Situasinya mengerikan dan sangat mirip harus memainkan permainan sepak bola melawan 11 orang tetapi hanya diizinkan untuk memasukkan tujuh orang,” kata Carl Bek-Nielsen, direktur eksekutif penanam kelapa sawit United Plantations.

Tak hanya industri perkebunan sawit saja yang merugi, para produsen semikonduktor asal negeri jiran juga mengalami tekanan, hingga mereka menolak berbagai pesanan ekspor akibat kekurangan tenaga kerja.

Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia mencatat, saat ini industri semikonduktor di negaranya tengah mengalami kekurangan pekerja sebanyak 15.000 orang yang kemudian memicu penurunan pada Indeks Manajer Pembelian manufaktur Malaysia dari 51,6 pada April menjadi 50,1 pada Mei.

“Pembuat chip menolak pelanggan, penduduk setempat tidak tertarik bekerja di industri ini dan banyak yang bergabung akan cuti dalam waktu kurang dari setengah tahun” kata Wong Siew Hai, presiden Asosiasi Industri Semikonduktor Malaysia.

Meski saat ini berbagai sektor industri tengah mengalami pelemahan produksi, namun Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia, Saravanan Murugan menyebut bahwa kegiatan produksi di negaranya akan segera bangkit dalam waktu dekat.

Mengingat saat ini Malaysia sedang menyelesaikan masalah teknis, prosedur rekrutmen dan kesepakatan kerja dengan beberapa negara tetangga.

Industri Kelapa Sawit Malaysia Terancam Rugi

Malaysia terancam gagal memanfaatkan momentum lonjakan harga minyak sawit dan justru dibayangi kerugian karena menghadapi krisis tenaga kerja.

Industri kelapa sawit Malaysia saat ini kekurangan hingga 120.000 pekerja.

Kepada Reuters pada Senin (6/6), Asosiasi Pemilik Estat Malaysia (MEOA) mengatakan, kekurangan tenaga kerja ini didorong oleh pembatasan imigrasi terkait pandemi. Akibatnya, panen buah sakit pun menjadi terhambat.

Pada awal pandemi, setidaknya ada 437.000 tenaga kerja di perkebunan Malaysia. Sebagian besar di antaranya, sekitar 80 % , berasal dari Indonesia.

Tahun ini, harga minyak sawit melonjak ke level tertinggi karena krisis tenaga kerja, pembatasan ekspor di produsen utama Indonesia, serta perang Rusia-Ukraina. Namun, MEOA menjelaskan, para produsen di Malaysia tidak merasakan keuntungan dari fenomena tersebut.

“Yang menyedihkan adalah bahwa Malaysia kehilangan kesempatan emas yang disajikan di atas piring karena kami tidak mampu mengatasi panen semua tandan karena tenaga kerja yang terbatas saat ini,” ungkap MEOA dalam pernyataannya.

September tahun lalu, Malaysia telah menyetujui perekrutan 32.000 pekerja migran untuk perkebunan kelapa sawit demi menggenjot lagi produksi. Sayangnya, tenaga kerja asing yang direkrut belum juga datang karena masalah izin.

MEOA memprediksi proyeksi produksi industri sawit Malaysia di tahun 2022 yang ada di angka 18,6 juta ton bisa saja diturunkan jika tenaga kerja tidak kunjung datang.

“Proyeksi ini bisa ditekan lagi jika pemerintah tidak bisa bertindak sekarang di tengah lambatnya progres penerbitan izin perpanjangan untuk 32.000 pekerja,” lanjut MEOA.

Sejalan dengan itu, Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) pekan lalu menurunkan prospek produksinya menjadi 18,6 juta ton untuk tahun ini dari perkiraan sebelumnya 18,9 juta ton.

Kondisi ini semakin buruk setelah pekan lalu Indonesia memutuskan untuk membatalkan rencana pengiriman tenaga kerjanya ke Malaysia karena ada masalah prosedural.

Krisis Tenaga Kerja Industri Sawit Malaysia Terancam Merugi
7 hari yang lalu malaysia terancam gagal memanfaatkan momentum lonjakan harga minyak sawit dan justru dibayangi kerugian karena menghadapi krisis tenaga

Malaysia Hadapi Krisis Ekonomi Krisis Politik 70 Ribu Pmi Akan
Sebanyak 70 ribu pekerja migran indonesia pmi dari malaysia akan ekonomi dan krisis politik ujar kepala dinas tenaga kerja dan

Bab I
Tenaga kerja namun juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri manufaktur menghadapi memasuki tahun 2000an malaysia mengalami krisis kekurangan

Industri Sawit Malaysia Terancam Merugi Karena Krisis Tenaga Kerja
7 hari yang lalu malaysia terancam gagal memanfaatkan momentum lonjakan harga minyak sawit dan justru dibayangi kerugian karena menghadapi krisis tenaga

Perkebunan Sawit Malaysia Hadapi Krisis Tenaga Kerja
Industri sawit malaysia menghadapi krisis tenaga kerja di perkebunan sebagai dampak pandemi covid 19 untuk mencegah resiko berkepanjangan

Atasi Krisis Pekerja Perkebunan Sawit Malaysia Minta Bantuan
Jakarta globalplanet industri sawit malaysia menghadapi krisis tenaga kerja di perkebunan sebagai dampak pandemi covid 19

Indonesia Batalkan Rencana Kirim Tki Ke Perkebunan Sawit
Bagi industri yang menghadapi kekurangan lebih dari 100 000 pekerja krisis tenaga kerja telah memangkas produksi minyak sawit malaysia

Krisis Tenaga Kerja Akibat Covid 19 Produsen Sawit Malaysia
Migran dari indonesia dan bangladesh merupakan hampir 85 persen dari tangan perkebunan di industri yang biasanya dijauhi penduduk setempat

Kekurangan 100 000 Pekerja Industri Kelapa Sawit Malaysia Minta
Sejak bulan lalu malaysia telah membuka kembali perbatasan dan mengizinkan masuknya pekerja asing namun belum mencukupi kebutuhan tenaga kerja

Industri Sawit Malaysia Berjuang Lawan Corona Tikus Dan Kurang
Krisis tenaga kerja memang tidak hanya dialami oleh malaysia kanada juga menghadapi persoalan yang sama dengan produksi kanola nya serta

Krisis Tka Selama Covid Produsen Sawit Malaysia Rekrut Pekerja
Industri khawatir krisis tenaga kerja asing akan mengganggu produksi warga membuat malaysia menghadapi dilema kekurangan tenaga kerja

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.