free stats
banner 728x250
Berita  

Pasar Minyak Nabati Dunia Bergejolak Setelah Indonesia Larang Ekspor CPO

banner 120x600
banner 468x60

Laporan berita, Nur Febriana Trinugraheni

JAKARTA – Pasar minyak nabati dunia bergejolak setelah Indonesia mengumumkan larangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke luar negeri di tengah tingginya harga CPO di pasar internasional.

banner 325x300

Harga CPO di pasar internasional telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa tahun ini. Keputusan Indonesia untuk melarang ekspor CPO telah menimbulkan kekhawatiran dari importir minyak sawit terbesar dunia itu.

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia, termasuk untuk pembuatan produk makanan seperti biskuit, coklat, margarin dan deterjen.

Minyak sawit juga dikenal sebagai minyak nabati yang paling banyak diproduksi, dikonsumsi dan diperdagangkan di pasar dunia.

Minyak sawit menyumbang sekitar 40 persen dari pasokan empat minyak nabati paling populer, yaitu minyak sawit, minyak kedelai, minyak canola, dan minyak biji bunga matahari.

Berikut ini adalah rincian pasar minyak nabati global menurut Reuters:

minyak kelapa sawit

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengatakan sekitar 77 juta ton minyak sawit diharapkan akan diproduksi tahun ini.

Indonesia sendiri merupakan produsen, eksportir dan konsumen utama minyak sawit, menyumbang sekitar 60 persen dari total pasokan. Pemasok minyak sawit terbesar kedua, Malaysia, menyumbang sekitar 25 persen dari pangsa pasar global.

Sementara itu, India merupakan importir utama minyak sawit. Importir utama lainnya adalah China, Pakistan, Bangladesh, Mesir dan Kenya.

Menurut data USDA, minyak sawit menyumbang sekitar 40 persen dari konsumsi minyak nabati di India. Impor minyak sawit ke India diperkirakan akan menurun tahun ini, menyusul kebijakan perdagangan Indonesia yang akan membatasi ekspor minyak sawit, karena tingginya harga minyak nabati dan faktor lainnya.

Produksi minyak sawit global pada tahun 2020 dan 2021 akan menurun karena penurunan jumlah pekerja migran di perkebunan di seluruh Asia Tenggara.

Sebelumnya, Indonesia telah membatasi ekspor minyak nabati dari akhir Januari hingga pertengahan Maret untuk mencoba mengendalikan harga minyak goreng domestik.

Minyak Nabati Lainnya

Untuk bagiannya, minyak kedelai adalah minyak nabati kedua yang paling banyak diproduksi. Sekitar 59 juta ton minyak kedelai diharapkan dapat diproduksi tahun ini.

China adalah produsen minyak kedelai terbesar, memproduksi sekitar 15,95 juta ton minyak kedelai. Amerika menyusul dengan 11,9 juta ton minyak kedelai, Brasil dengan 9 juta ton minyak kedelai dan Argentina dengan 7,9 juta ton.

Harga minyak kedelai dunia juga dilaporkan melonjak ke rekor tertinggi, di tengah kekhawatiran atas keputusan Indonesia untuk melarang ekspor minyak sawit.

Argentina, sebagai eksportir kedelai utama, diperkirakan akan mengalami penurunan ekspor minyak kedelai tahun ini, menyusul berakhirnya musim tanam kedelai yang buruk.

Negara itu sempat berhenti menjual minyak kedelai ke luar negeri pada pertengahan Maret, sebelum akhirnya menaikkan tarif pajak ekspor minyak kedelai menjadi 33 persen. Upaya ini diyakini dapat menekan inflasi domestik.

Menurut USDA, Brasil dan Amerika Serikat adalah eksportir terbesar berikutnya. Lebih banyak pabrik penghancur kedelai diperkirakan akan dibuka di AS di tahun-tahun mendatang, karena meningkatnya permintaan untuk menggunakan minyak kedelai untuk bahan bakar nabati, tetapi AS tidak mungkin dapat meningkatkan kapasitas dan memenuhi permintaan minyak kedelai di AS di tahun-tahun mendatang. waktu dekat.

Untuk minyak nabati lainnya, seperti minyak canola, USDA memperkirakan 29 juta ton akan diproduksi tahun ini, terutama di Eropa, Kanada dan China.

Tahun lalu, kekeringan memotong tanaman kanola Kanada, sementara Eropa juga menghadapi kerusakan tanaman, mengurangi pasokan minyak kanola untuk tahun ini.

Asosiasi Pemrosesan Biji Minyak Kanada mengatakan Kanada mengekspor sekitar 75 persen minyak canola yang digunakan dalam makanan dan bahan bakar tahun lalu, diikuti oleh Amerika Serikat sebesar 62 persen dan minyak canola China sebesar 25 persen.

Sementara itu, dua negara yang sedang berkonflik, Rusia dan Ukraina, menyumbang sekitar 55 persen produksi minyak bunga matahari dunia dan menyumbang sekitar 76 persen ekspor dunia.

Sayangnya, sejak invasi Rusia ke Ukraina, pengiriman minyak bunga matahari dari wilayah tersebut mengalami penurunan dan produksi minyak bunga matahari di Ukraina diperkirakan akan terganggu tahun ini.

Importir utama minyak bunga matahari, yakni China, India dan Eropa, dikabarkan mulai berebut mencari minyak alternatif yang bisa menggantikan pasokan yang hilang dari kedua negara tersebut. Lebih dari 90 persen minyak biji bunga matahari impor India berasal dari Ukraina dan Rusia.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.