free stats
banner 728x250
Berita  

Saham Bank Besar Bertumbangan, Analis: Akan Segera Pulih

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,42% menjadi INR 6.909,75 pada Senin (9/5/2022).

Saham bank besar juga jatuh ke bawah Batas Penolakan Otomatis (ARB) saat perdagangan ditutup awal pekan ini setelah libur panjang.

banner 325x300

Runtuhnya saham-saham bank besar menjadi salah satu pecundang terbesar kemarin.

Based on RTI data, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) and PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) shares fell 6.98% to Rs 8,325 and Rs 4,530.

Shares of PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) fell 6.46% to Rs 7,600, and PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) shares fell 4.34% to Rs 8,825.

Investor asing mencatat penjualan bersih Rs.2,59 triliun di semua pasar. Asing melakukan penjualan bersih sebesar Rs1,3 triliun di saham BBCA, Rs.687 miliar di BBRI, Rs.131 triliun di BMRI dan Rs.71.21 miliar di BBNI.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penurunan tajam saham bank-bank besar tersebut hanya bersifat sementara di tengah tekanan ketidakpastian global yang masih signifikan.

“Kebijaksanaan masih penting saat ini,” katanya kepada KONTAN, Senin (9/5).

Dia menegaskan, kemungkinan suatu saham tidak hanya dilihat dari devisa, tetapi juga harus memperhatikan fundamental perbankan.

Selama fundamental dalam kondisi baik dan kuat, dia melihat potensi valuasi jangka panjang masih terbuka lebar.

Niko melihat tekanan pada saham perbankan akan mengikuti ketidakpastian yang muncul di pasar.

Namun selama fundamental perusahaan baik dan pemulihan ekonomi nasional terus berlanjut, dia yakin tekanan itu bisa diredakan, meski masih butuh waktu.

Dengan cara ini, Nikko memperkirakan harga saham bank-bank besar tersebut akan pulih.

Memang, menurutnya, pullback ini justru menjadi peluang bagus bagi investor untuk melakukan pembelian.

Perseroan juga masih mempertahankan target harga untuk BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI masing-masing di Rp8.359, Rp5.199, Rp9.169, dan Rp9.191 pada tahun ini.

Sementara itu, Riya Priampada, Kepala Analis CSA Research Institute, menilai saham-saham bank-bank besar melemah akibat pasar saham global yang cenderung melemah sejalan dengan sentimen yang berbeda.

Sentimen negatif terus mewarnai pasar dunia, dimulai dengan masih berlangsungnya perang Rusia-Ukraina, munculnya kembali kasus Covid-19 di berbagai negara, munculnya hepatitis of unknown origin, dan turunnya harga komoditas.

Ditambah dengan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Akibatnya, saham-saham yang sempat reli menjelang Lebaran, termasuk perbankan, banyak dijual.

“Investor asing melakukan aksi jual untuk mengamankan posisi sementara dengan memperhatikan berbagai sentimen yang ada.

“Mereka mengamankan asetnya terlebih dahulu sambil menunggu dampak dari kebijakan Federal Reserve di masa mendatang,” jelas Reda.

Sama seperti Nikko, Reza melihat tekanan tersebut hanya bersifat sementara meski belum bisa memprediksi seberapa parah penurunan saham perbankan tersebut.

Diperkirakan saham-saham tersebut akan bangkit kembali karena kondisi ekonomi lokal yang masih baik, seperti pada triwulan I PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,01%.

Ia menyimpulkan, “Selain itu, kinerja perbankan juga membaik dan penyaluran kredit meningkat.” (Dina Mirayanti Hattoruk / Tendy Mehdi)

Sumber: Happy

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.